Cari Blog Ini

Blog ini di dedikasikan kepada tim pewaris negeri "OASE club" untuk mengasah bakat dan kreatifitas mereka.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Mei 2014

Cerita Kecil : Cerpen "Bahlul yang Bodoh"

Malam itu kami membaca cerpen yang buat kami tertawa terbahak-bahak. Dan buku yang berisi cerpen tersebut meloncat dari satu tangan ke tangan yang lain yang ingin membacanya. Kali ini cerpen tersebut coba kami kutip dari buku Gelar anak kelas VI dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang berada tepat di halaman 15. 
"Si Bahlul adalah pemuda yang bodoh. Suatu hari saat si Bahlul berjalan-jalan di hutan dia melihat seorang gadis tertidur di bawah pohon. Gadis itu terlihat rupawan namun tidak segera bangun walaupun Bahlul telah menggoyangkan tubuhnya maka Bahlul membawa gadis tersebut pulang. Saat di rumah ibu Bahlul mengingatkan kalau gadis itu telah meninggal dunia, jika Bahlul tidak percaya bahlul dapat membuktikan jika gadis tersebut mengeluarkan bau tidak sedap dalam beberapa hari maka gadis tersebut telah meninggal. Dan perkataan ibu Bahlul pun terbukti dalam beberapa hari tubuh gadis tersebut mengeluarkan bau tidak sedap kemudian Bahlul membuang tubuh gadis tersebut ke jurang.
Suatu hari, ibu Bahlul kentut dan terciumlah bau tidak sedap dari tubuh ibunya. Bahlul mengira ibunya telah meninggal dunia. Ibunya berusaha menjeskan bahwa dia tidak meninggal dunia. Namun, Bahlul yang bodoh menggendong paksa ibunya dan membuang ibunya ke jurang dan ibunya meninggal.
dan suatu hari Bahlul kentut dan berbau tidak sedap maka dia mengira bahwa dirinya telah meninggal dubia dan dia menerjunkan dirinya ke jurang. Dan meninggalah si Bahlul karena kebodohannya."
Cerita si Bahlul yang bodoh ini mengajarkan pada kita bhahwa kebodohan mendatangkan berbagai macam kesengsaraan dalam hidup  kita. Jadi sahabat jangan hanya tertawa membaca cerita Bahlul yang bodoh tersebut. Namun, harus dapat mengambil pelajarannya. JANGAN MAU JADI BODOH.

Sabtu, 18 Januari 2014

Cerita Kecil : RSUD Soetomo Part 1

             Kulirik sekilas arlogi yang melingkar di tangan kananku. Jarum menunjukkan pukul 06.43. Aku bernafas lega diikuti oleh sepupu dan tanteku. Setelah berkutat di tengah kota Surabaya mengandalkan pengalaman dan GPRS akhirnya kami berhasil memasuki halaman RSU Dr. Soetomo tepat 12 menit sebelum loket di buka. 
            Ketegangan di wajah tanteku memudar digantikan kelegaan. Jika kami benar-benar tersesat di tengah kota maka kami akan menjadi Tarzan kota.
“Mbak. Aku cari kamar mandi dulu.” Kata tante memberikan tangan sepupuku padaku. Meminta aku menjaganya saat dia mencari kamar mandi.
                Suasana lobi rumah sakit begitu penuh sesak. Antrian pasien yang menggunkan Jamkesmas sangat panjang mencapai luar gedung. Menandakan seberapa parah ekonomi sebagian besar penduduk Indonesia.
             Karena ini adalah kunjungan kami yang kedua ke RSU Dr Soetomo yang dikenal juga dengan nama rumah sakit Karang Menjangan, maka aku sudah memahami prosedurnya. Aku mengajak Hania berdiri di depan loket yang sesuai. Menyaksikan berbagai macam pasien dan keluarganya. Belum Nampak petugas di dalam loket. Kulirik sekilas arlogiku, Beberapa menit lagi. Batinku
“Jam berapa mbak bukanya?” sapa seorang ibu yang antri di sampingku.
“Jadwalnya jam 7 bu? Ibu pasien baru?” jawabku
“Iya mbak. Dari Gresik. Mbaknya dari mana?” Tanya beliau lagi
          Dan dalam hitungan detik kami menjadi akrab. Mungkin karena kami merasa senasib. Benar kata guruku dulu, orang-orang yang merasa senasib  akan berubah menjadi saudara. Tampak sekali si ibu merasa begitu sedih. Beberapa kali beliau mengusapkan sapu tangan ke matanya yang berair. Suami beliau yang berdiri disampingnya tampak mencoba menenangkannya. Tanpa diminta si ibu menceritakan pada kami bahwa beliau di diagnose kanker rahim oleh rumah sakit di kota beliau dan di rujuk kemari.
“Mbaknya sakit apa?” Tanya beliau lagi
“Bukan saya bu. Adik saya yang periksa.” Kataku mengenalkan Hania
           Mata si ibu semakin berkaca-kaca berbagai komentar keluar darinya. Meminta kami bersabar dengan ujian ini. Mencoba menyakinkan kami dengan kondisi yang kami alami dan terdengar mencoba menyakinkan dirinya sendiri. Tanteku yang telah kembali dari kamar mandi mengenggam tanganku erat mendengarkan perkataan teman baru kami tersebut.
            Aku membalas remasan tangannya. Mencoba mengingatkannya tentang janji yang di buat sebelum kami berangkat untuk periksaan kedua ini bahwa, dia akan sesalu tegar saat melakukan berbagai macam pemeriksaan yang akan di hadapi anaknya.
             Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan, berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain dan bertemu berbagai macam pasien. Di setiap antrian kami bertemu teman baru dan cerita-cerita baru. Penyakit yang kami alami mungkin tidak separah dengan yang dialami seorang gadis kecil berusia 4 tahun asal Jember yang harus datang ke Surabaya setiap 2 minggun sekali untuk pengobatan. Kesedihan kami mungkin tidak setara dengan kesedihan seorang ibu yang harus menjaga dua anaknya yang sedang meregang nyawa di ICU karena kecelakaan. Beban hidup yang kami rasakan tidak akan sebanding dengan seorang kakek yang harus mengantar istrinya yang sama-sama telah lanjut usia.
        Berbagai macam penyakit kami dengar mulai dari jari kaki yang tidak sengaja terpatuk burung peliharaan dan berujung pada amputasi. Sampai segala macam jenis kanker yang diderita pasien. Datang ke rumah sakit secara otomatis membuat kami lebih bersyukur.
            Saat seseorang  didiagnosa menderita sebuah penyakit mematikan maka dia merasa dunia runtuh.  Seolah dia adalah makhluk yang paling menyedihkan. Dan yang paling bahaya protes pada Allah apa salahnya kenapa dia diberi penyakit yang mematikan.
            Namun, saat datang ke sebuah rumah sakit, menyaksikan dan mendengar berbagai macam cerita, maka  kita akan tahu betapa kita beruntung. Betapa beruntungnya kami karena nikmat sehat ini ya Rabb…


NB: Sudahkan kau bersyukur atas nikmat sehat yang kamu dapatkan hari ini.

Kamis, 16 Januari 2014

Cerita Kecil: Kiki dan Botol Ajaibnya

Kiki dan botol ajaibnya adalah julukan yang akan kuberikan pada Rizki atau yang biasa dipanggil Kiki. Gadis kecil yang duduk di bangku kelas 2 SDN Kepuhpandak I itu mempunyai kebiasaan yang sangat unik. Kemanapun dia pergi akan ada botol air minum bertengger di tas punggungnya.
Kiki tidak pernah perduli jika ada temannya mengejek masalah tubuhnya yang gemuk atau bahkan kepalanya yang jarang di tumbuhi rambut. Namun, jangan sekalipun menghina botol minumnya apalagi menyentuh botol air minumnya tanpa izin. Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan kiki meminum air dari botolnya.
Aku menyebut botol itu sebagai botol ajaibnya. Karena botol tersebut seolah dapat menenangkan Kiki. Seperti sebuah keajaiban. Pernah suatu sore Kiki memukul Jimli yang sengaja meminum air dari botol ajaib Kiki karena kepedasan. Mereka bertengkar hebat dan akhirnya keduanya menangis. Sejak saat itu Jimli tidak pernah berani memegang botol ajaib Kiki.
Lain halnya dengan Diva, Si kecil ini tidak mau menyerah menggoda Kiki walaupun mereka sering kali bertengkar hebat. Suatu sore Diva menyembunyikan botol ajaib Kiki di salah satu kantong tas punggung Kiki. Kiki yang menyadari botol ajaibnya tidak berada pada tempat yang semestinya mulai cemberut dan menggerutu. Diva berhasil mengelabuhi Kiki dengan akting polosnya. Berpura-pura prihatin pada Kiki yang kehilangan botol ajaibnya. Akhirnya setelah berkutat mencari, Kiki menemukan botol tersebut di salah satu kantung tas pungunggnya dan tertawa malu. Mengira dirinya yang pelupa, dan kami semua tertawa mendengar komentar Kiki.
Peristiwa Kiki dan botol ajaibnya juga sempat menganggu jadwal tidur di rumahku. Pernah suatu malam, saat aku dan keluarga beranjak tidur, terdengar ketukan di pintu. Ternyata Kiki dan ayahnya yang datang. Mata Kiki sembab menandakan dia habis menangis.
“Mbak apa tidak ada botol ketinggalan?” Tanya ayah Kiki. “Botol air minum.” Lanjutnya sambil mengedikkan bahu.
Aku langsung teringat akan botol ajaib Kiki yang berbentuk aneh. Kami mencari-cari keberadaan botol tersebut disekitar rumahku. Namun, berwujudan botol antik tersebut belum juga kelihatan. Ayahnya menyakinkan kami bahwa Kiki sudah di bujuk untuk mendapatkan botol yang baru namun, dia menolak. Dia bersih keras mendapatkan botol jadulnya itu.
Setelah kami bosan mencari keberadaan si botol. Tiba-tiba ibuku ingat telah memasukkan si botol ke tempat barang-barang rongsokan. Ibu meminta maaf, mengira itu sebagai barang yang tidak berguna. Kami semua tertawa lega, dan tak percaya dengan tingkah Kiki.
“Mbak Ki. Bagaimana kalau besok minta dibelikan ayah botol minuman yang benar.” Kataku beberapa minggu yang lalu. “Botol ini adalah botol sekali pakek jadi akan bahaya bagi kesehatan” Kataku sambil memegang botol ajaib Kiki. “Lihat botol ini ada bagian-bagian yang akan ikut terlarut air yang mbak Kiki minum dan bisa jadi akan membuat mbak Kiki sakit.” Kataku meyakinkan Kiki
“Iya. Airnya lo jadi seperti air sungai” Tambah Manda. “Lebih bersih air kran.” Lanjut Manda
Dalam hitungan detik Kiki menjadi bersungut-sungut dan segera merampas botol ajaibnya dalam genggamanku. “Ini, karena tadi pagi di isi susu. Jadi, warnanya jadi begini.” Jawabnya dan segera memasukkan botol ajaibnya dalam ranselnya.
Tidak kehabisan ide, akhirnya aku menerangkan padanya dengan bantuan internet tentang bahaya botol sekali pakai. Walaupun terlihat cemberut, namun aku yakin kiki mendengarkanku. Dan terbukti akhir-akhir ini dia datang ke Oase club dengan botol ajaib yang berubah setiap minggunya.

Berdasarkan informasi dari Diva si Kiki membeli minuman di dalam botol setiap hari minggu dan memakai botol bekas itu satu minggu kemudian. Kiki dan botol ajaibnya sering kali masih menyisakan banyak tawa bagi kami. ^_^

Senin, 09 September 2013

Kisah Kecil: Si Femas

Namanya Femas, Kami biasa memanggilnya Nyet... Karena dia hobi nyetrum ikan (mencari ikan dengan aliran listrik). Dia masih duduk di kelas 1 SD, kulitnya hitam karena terbakar matahari. Sering kali dia bertingkah yang menyebalkan namun tak jarang dia mengeluarkan celetukan dan ocehan lucu yang membuat kami tak bisa berhenti tertawa. Seperti malam ini saat aku mendektenya sebuah kalimat dan dia harus menuliskannya dengan bagus. Aku sangat terkejut dengan tulisannya yang cukup membingungkan dan tidak rapi. Saat aku memprotes tulisannya yang tidak rapi, dia marah dan saat aku melingkari semua yang salah dengan bulpoin merah dia semakin marah. Dia memprotesku saat aku melingkari huruf n pada kata yang seharusnya berbunyi membeli.

"Kenapa dilingkari? inikan bener." Katanya memprotes
"Kamu seharusnya pakai huruf m yang kakinya tiga kenapa kamu pakai huruf n."
"ealah... la wong cuma kakinya kurang satu ae lo. Dasar cerewet." lanjutnya yang membuat aku terperangah dan tersenyum dalam hati
"la kalau Femas punya hidung hadap ke atas seharusnya ke bawah. gimana? kan cuma hadapnya saja yang salah."
"Kan beda. Katanya mbak Nur yang diciptakan manusia tidak pernah sempurna tapi ciptaan Allah selalu sempurna." Semakin membuatku geleng-geleng kepala

Saat itu aku tahu sebenarnya Femas bukanlah anak yang bodoh dan nakal dia mungkin akan tergolong memjadi anak cerdas jika diarahkan dengan benar. Inilah kebiasannya menjawab dan melumpuhkan seseorang dengan kata-kata orang tersebut di masa lalu. Jadi, tidak salah jika aku mengatakan dia tipe seseorang yang punya ingatan yang bagus. Namun, Pemahamannya sering kali salah jalan

"Misalnya begini. Ada orang yang bertanya siapa Femas? Femas itu anak laki-laki, kakinya dua, tangannya dua ada kepala dan rambutnya semuanya lengkap benar itu?"

Dia mengangguk mantap

"Kalau ada yang jawab. Femas itu kepalannya ada rambutnya. lengkap. Tangannya dua tapi kakinya ada 3 gimana? Kan cuma beda jumlah kakinya.?" Dia tampak berpikir
"Jadi gini m punya kami tiga dan jika punya kaki dua dia akan menjadi n. Femas punya kaki dua dan jika kakinya tiga bukan Femas. emang Femas mau disebut berkaki tiga."

"Oo... Maaf ya mbak." Akhirnya dia tersenyum dengan menunjukkan giginya yang tidak lengkap

Senin, 02 September 2013

Cerpen: Gara-gara Firman Utina

Sudut Pandang Eka Rahwa Fitriani kelas IV SDN Kaligoro

Kejadian ini sebenarnya telah terjadi beberapa tahun lalu tepatnya saat aku duduk di kelas 1. Waktu itu kami belajar bersama setelah sholat dhuhur. Anak kelas rendah (Kelas 1, 2 dan 3) belajar di musholah ditemani mbak Nur. Saat itu sedang ramai-ramainya pertandingan sepak bola asia tenggara atau AFF. Tak satupun dari kami yang tidak mempunyai kaos merah bergambar garuda tersebut. Kami sangat menyukai tim sepak bola kami karena mereka bermain dengan sangat bagus.Bahkan teman-temanku yang laki-laki hampir semuanya bercita-cita menjadi pemain sepak bola yang perempuan juga tidak mau ketinggalan untuk menjadi pemain sepak bola.

Aku sangat menyukai Irfan, ku buktikan dengan memakai kaos bergambar bintang sepak bola tersebut. Sedangkan mbak Manda temanku sangat menyukai Firman Utina yang menjadi kapten tim merah putih.Tak jarang kami bertengkar mengunggulkan idola kami masing-masing.Tapi, itu semua kami lakukan dengan bercanda.

Malam itu kami, anak kelas 1, mendapatkan pekerjaan rumah mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Agama Islam. Ada sebuah pertanyaan yang tidak bisa kami jawab. Maka mbak Nur kembali membacakan untuk kami
ALQUR'AN ADALAH FIRMAN?........................
UTINAAAAA....... Jawab mbak Manda langsung dan lantang
Semua yang mendengar dan mengetahui jawaban mbak Manda salah jadi terdiam kemuadian semuanya tertawa bersama-sama.

Mbak Manda ikut tertawa saat  dia sadar dia telah memberikan jawaban yang salah.. Ini adalah kejadian lucu yang mungkin akan selalu aku ingat. Bahkan saat adik kelasku mengerjakan soal yang sama, kami yang tahu kejadian 3 tahun lalu sering kali memberikan jawaban yang sama dengan yang dikatakan mbak Manda. Tapi, sayang sekali adik-adik kelasku kini sudah tidak mengenal Firman Utina.

Senin, 15 Juli 2013

Cerpen: Petualangan Dora di Sanrio

Sudut Pandang : Amanda (SDN Kepuh Pandak I Kelas IV)

Hari ini setelah puas bermain air di water land dan sholat dhuhur kami melanjutkan perjalanan ke Sanrio. Sepanjang jalan eka berkaraoke manyanyikan lagu kereta malam. Pak supir sangat baik pada kami. Tidak lama kami sampai juga di Sanrio.

Tempat pertama yang aku datangi adalah bom-bom car. Aku naik sampai empat kami putaran. Eka dan mbak Rahmita menghabiskan uang Rp 40.000,00 yang membuat kami geleng-geleng kepala. Yang paling enak adalah neng Eka dan mbak Nur karena bisa naik bom-bom car gratis. Anak yang masih kecil menyewa mereka terus untuk jadi supurnya.

Setelah bosan bermain bom-bom car aku naik roller coster bersama teman-teman yang lain. Akhirnya kepalaku sedikit pusing, tapi aku sangat senang. Setelah itu kami melihat ke atas ada ruangan bergambar dora dan tulisannya menyerupai rumah hantu "Petualangan Dora" kami semua tertarik untuk masuk.
"Mbak, di dalam sana ada apanya?" Tanya neng Eka pada mbak yang menjual koin
"Lihat aja sendiri mbak. Bagus kok."

Lalu kami memutuskan untuk masuk wahana petualangan dora. kami harus membeli koin besar seharga Rp 5.000,00. Ternyata masuknya hanya boleh 7 orang saja. Dan giliran anak-anak yang masuk pertama diawal jalan mereka sudah lari kembali keluar.
"Rumah hantu." Teriak mereka kembali turun

Rizal yang paling penakut diantara kami langsung turun ke bawah dan  tidak mau masuk lagi. Beberapa teman mencoba menukar kembali koin besar dengan koin kecil tapi mbak penjaganya tidak mengizinkan. Dengan sedikit terpaksa dan memaksa mbak penjaga untuk membolehkan kami masuk semua ke dalam ruangan. Akhirnya kami semua masuk ke dalam. Kami menempatkan mbak Nur di depan barisan dan neng Eka dibelakang barisan. Aku berpegangan erat pada mbak Nur. Dia mengeluarkan kotak pensil, mungkin ingin digunakan sebagai alat memukul hantu, Sepernarnya itu lucu tapi suasananya begitu menakutkan.

Didalam sangat remang-remang di lantai yang kami lewati banyak bergeletakkan boneka-boneka yang menyerupai pocongan. Teman-teman begitu ribut saat harus menelewati keranda dengan tangis bayi yang menjerit-jerit. Kami sampai di sebuah tempat dengan 3 pintu yang ditutupi selambu warna hitam. Mbak Nur menyibakkan selambu dengan kotak pensil dan kami berdua menjerit amat keras diikuti anak-anak yang lain.
"Emoh. Aku gak wani sumpah aku gak wani." teriaknya sampil berusaha lari kebelakang. Namun teman-teman segera menghalanginya. "Eka sampean yang di depan. tukar."
"Mboten, mbak.  Cepetan mbak aku juga takut." Sahut neng Eka dari belakang yang posisinya masih ada di samping keranda karena barisan kami cukup panjang.

Mbak Nur sudah hampir menangis aku rasa dan kami semua juga. Akhirnya mas Dani yang berdiri tidak jauh dari mbak Nur di tarik ke depan sendiri. Sempat terjadi pertengkaran dan perdebatan sampai acara tarik-tarikan. Akhirnya mas Dani kalah dan di dorong mbak Nur keposisi depan. Karena mbak Nur tidak memegangku aku lari kebelakang dengan neng Eka.

Ternyata HPnya mas Dani bisa di pakai senter dan kami berhasil menemukan pintu yang benar untuk keluar. Ternyata ada dibelakang sendiri semakin membuatku takut. Setiap teman-teman yang didepan menjerit aku selalu ikut menjerit. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi di depan, tiba-tiba aku dengar suara mas Dani dan yang lainnya teriak minta dikeluarkan. Kami semua ikut berteriak.
"MBAK TOLONGGG KELUARKAN KAMI. MBAK..... TOLONG KELUARKAN KAMI." Teriak kami semua sambil memukuli dinding kayu.

Maka setelah usaha kami sia-sia. Mungkin tak ada orang yang mendengar teriakan kami. Karena ruangannya kedap suara. Akhirnya kami mendengar mas Dani dan mbak Nur kembali bertengkar dan neng Eka berusaha mengingatkan dari belakang.
"Dani cepetan." Teriak neng Eka
"Cepetan-cepetan. Maju sini lo kedapan."

Tangisan bayi dan ringikan kuntilanak semakin menyanyat neng Eka segera mendorong anak-anak untuk maju kedepan. Akhirnya semuanya maju dan kami semua berlari tunggang langgang. Setelah melewati beberapa lorong dengan mata yang benar-benar terpejam akhirnya kami sampai di luar dengan tawa bahagia yang sangat keras.

"Mbak sandalku putus." Kata mbak Arum memelas
"Nanti beli sandal japit di bawah ya..."
"Mbak..." Giliran Harjo yang hampir menangis. Kami lihat dia tak memakai sandal sebelah kirinya. "Mbak sandalku ketinggalan di dalam."

Neng Eka dan mbak Nur yang merupakan pemimpin kami segera tertawa dan turun ke bawah dengan geleng-geleng kepala. Aku yakin mereka takut disuruh mengambil sandal Harjo yang ketinggalan di dalam. Mereka berdua menyuruh mas Dani mengambilkan sandal Harjo.
"Dan, Ambilkan sandalnya Harjo. Dimana tadi lepasnya?" Tanya mbak Nur dari bawah
" Yang kita lari tadi itu lo mbak." Jawabnya mulai menangis

Mas Dani tak menghiraukan perkataan mbak Nur. Neng Eka yang mendorong kami semua dari belakang juga tak mau disalahkan dan mengambilkan. "Aku juga sudah sangat takut di belakang sendiri." Katanya membela diri.

Tak ada yang berani masuk kedalam lagi walaupun Harjo sudah menangis. Kami sebenarnya ingin membantu, Tapi, kami sudah kapok dengan pengalaman yang barusan kami lalui.

Untung dhe Sopiyah mau mengambilkan sandal Harjo. Akhirnya kami semua kembali tertawa. Ini benar-benar pengalaman yang tak terlupakan para penakut yang mencoba bertemu hantu. Kadang aku masih suka tertawa saat mengingat ini semua.

Minggu, 02 Juni 2013

Cerpen: Akibat Atraksi Sepeda

Sudut pandang : Rizal Zakariyah (SDN Kaligoro kelas III)

Siang ini saat istirahat sekolah, aku dan teman-teman bermian sepak bola di halaman sekolah. Rendi  tidak mau kami ajak bermain sepak bola. Dia lebih suka bermain sepeda dengan atraksi-atraksi. Seandainya ada guru yang tahu perbuatan Rendi dan teman-teman yang bermain-main dengan sepeda pasti mereka sudah dimarahi. Namun, bapak dan ibu guru sedang rapat jadi tidak tahu jika ada anak yang bermain-main sepeda.

Mas Nova sudah mengingatkan Rendi untuk berhenti takut nanti akan jatuh. Tapi, Rendi sama sekali tidak perduli. Maka kami membiarkannya. Saat kami sedang bermain bola tiba-tiba terdengar ribut-ribut di tempat teman-teman bermain atrasi sepeda. Dan semua teman berlari melihatnya.

Kami begitu takut saat melihat kaki Rendi berdarah. Berdarah sangat banyak. Kakinya terjepit jeruji sepeda. Mas Nova lari memanggil guru dikantor. Kami sangat takut mau mebersihkan darah di kaki Rendi. Kami sangat kasihan melihatnya menangis penuh darah. Tidak berapa lama bapak kepala sekolah dan guru-guru yang lain datang.

Kaki Rendi yang mengeluarkan banyak darah segera di ikat. Dia digendong dan di bawa guru ke Puskesmas. Setelah itu kami semua dikumpulkan di beri nasehat oleh bapak Kepala Sekolah untuk tidak bermain hal-hal yang bahaya seperti itu lagi. Jika kami tidak menurut maka orang tua kami akan di panggil ke sekolah. Setelah itu kami masuk kelas. Sementara murid yang tadi main-main sepeda tetap berada di kantor.

Saat di kelas, aku dan Rozak benar-benar khawatir dengan keadaan Rendi dan kami berjanji akan mampir ke rumahnya setelah kami pulang sekolah. Bu guru mengajak kami mendo'akan semoga teman kita Rendi baik-baik saja. Sekali lagi bu guru mengingatkan kami untuk tidak bermain hal-hal yang membahayakan.

Sepulang sekolah aku, Rozak, Rendi B, khoirul, Yoga, dan Mas Nova datang ke rumah Rendi. Dia masih sedikit ketakuta. Kakinya diperban dan katanya tadi dipuskesmas di jahit. Dia tidak boleh banyak berjalan dulu sampai jahitannya kering. Dan dia juga harus minum obat yang sangat banyak.

Sungguh kasihan dia. Ibunya tampak benar-benar sedih. Tapi, kini dia sudah berjanji tidak akan nakal lagi. Tidak akan bermain yang berbahaya lagi di sekolah atau dimanapun. Melihat keadaan Rendi kami semua juga jadi takut. Kami semua berjanji tak akan nakal lagi sehingga tidak sakit seperti Rendi.

Rabu, 15 Mei 2013

Cerpen: Makroni Setan

Sudut Pandang : Rahmita (SDN Kaligoro Kelas VI)

Malam ini saat sedang belajar bersama. Mario, si kempes, datang telat dengan membawa makroni setan diplastik ukuran 1 kg penuh. Hari ini rata-rata dari kami tidak ada yang mendapat PR jadi kami belajar dengan sedikit bersantai.

Mario, si tukang buat keonaran itu, menawarkan makroni setannya pada kami. Dan kami yang berjumlah kurang lebih 23 langsung menyikat habis makroni setan tersebut. Lidah kami rasanya sudah panas tapi kami tetap ingin makan makroni setan lagi.

Ternyata di dompetku ada uang RP 5.000,00 lalu aku menyuruh mas Iqbal dan Mario membeli makroni setan lagi. Mbak Nur berusaha melarang kami tapi kami tak perduli.

Dan makroni setan tahap 2 pun kami habiskan dalam waktu singkat. Minuman yang kami bawa habis sampai sangat bersih. Namun, rasa pedas itu belum juga kunjung hilang.

Akhirnya rencana belajar kami sedikit kacau. Kami menghabiskan waktu belajar kami dengan bersenang-senang dan makan makroni mbak Eka dan Mbak Nur sedikit marah pada kami dan membiarkan kami pulang lebih awal.

Keesokan harinya saat hendak berangkat sekolah, ada yang tidak beres dengan perutku. Seandainya aku belum kelas vi pasti aku memutuskan tidak masuk sekolah karena perutku sangat sakit. Aku berangkat kesekolah agak telat dari biasnya. Kulihat di tempat kami mangkal sebelum berangkat sekolah masih sangat sepi.
"Yang lain kemana?" Tanyaku pada Laili yang ternyata datang ketempat kami mangkal lebih awal dari aku. Padahal hari biasanya dia datangnya paling telat.
"Eka sama Dinda tidak masuk soalnya perutnya sakit. Diare."
"Mbak, perutku mules." Kata Fatul keluar rumah, rumahnya di depan tempat mangkal kami. "Aku ingin tidak masuk mbak tapi dimarahi ibu." Lanjutnya dengan wajah cemberut.

Semua teman-temanku sakit perut. Aku jadi merasa bersalah. Ini semua karena makroni setan yang kami beli kemarin. Seandainya kami nurut apa kata mbak Nur dan mbak Eka. Seandainya aku tidak memaksa belu makroni setan lagi pasti teman-temanku tidak akan sakit perut.

Semuanya sudah berlalu. Sekarang yang harus aku ingat adalah tidak makan-makanan yang sangat pedas, seperti makroni setan, ini lagi dengan terlalu banyak.

Dalam hati aku hanya bisa meminta maaf pada teman-teman. Dan semoga mereka lekas sembuh begitu juga dengan ku. Aku akan ingat kejadian ini dan menjadikannya sebuah pelajaran .

Minggu, 12 Mei 2013

Cerpen : Aku Malu

Sudut Pandang : Diana (SDN Kaligoro Kelas IV)

Malam ini suasana oase club begitu bising. Hampir setiap anak mendapatkan PR. Mbak Nur dan Mbak Eka tampak benar-benar pusing. Bu Siti terus mengingatkan kami untuk tidak ribut. Aku, Ema, Dinda dan Eva mendapatkan tugas matematika tentang KPK yang cukup memusingkan.

Semua anak berteriak-teriak minta mbak Nur atau mbak Eka membantunya menyelesaikan PR masing-masing. Aku dan teman-teman kelas iv mengerjakan soal dengan menikmati camilan yang kami beli. Tiba-tiba perutku sedikit mulas.

Sambil tersenyum menghadap teman-teman aku berdiri menjauh mendekati pepohonan.
"Kenapa mau kentut ya?" Tanya Eva
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.
Eva menggingatkanku untuk hati-hati takut ada katak yang bisa loncat-loncat, yang biasa kita sebut bedindang. Itu adalah hewan yang paling aku takuti
"Diana, Kodok." Teriak Ema keras dan kemuadian aku meloncat kebelakang
KRUSEK.... BLUK....aku terjatuh di semak-semak bunga.

Suasana menjadi benar-benar hening, semua menoleh padaku. Masih didalam semak-semak bunga kesayangan pemilik rumah, aku mencoba tersenyum. Kemudian teman-teman semua tertawa dan meledekku. Termasuk mbka Eka dan mbak Nur. Mereka semua menertawakan aku. Aku yang awalnya tertawa tiba-tiba menangis. Semua kembali terdiam

"Kanapa nangis? Sakit ta?" Tanya mbak Eka yang cukup dekat dengan ku. Berusaha membantuku berdiri
Mbak Nur datang membawa segelas air. "Mana yang sakit? Tadi awalnya pean tertawa. Kok sekarang menangis. Ada yang terluka ta?"

Aku menggeleng pelan sambil berusaha menghentikan isak tangisku. "Terus kenapa kok menangis?" bu Siti ikut bertanya padaku. Prihatin dengan yang kualami.

Teman-teman mulai diam dan mungkin mengkhawatirkan aku. Ema tampak bersalah padaku, mecoba meneangkanku dan meminta maaf.

Disela tangisku aku jawab "AKU MALU." sambil kembali menangis
Dan kemudian semua anak kembali menertawakan aku dengan terpingkal-pingkal. Lalu aku menangis sambil tertawa.