Cari Blog Ini

Blog ini di dedikasikan kepada tim pewaris negeri "OASE club" untuk mengasah bakat dan kreatifitas mereka.
Tampilkan postingan dengan label catatankecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatankecil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

Adakah Air Mata Untukku

Drama korea 49 days yang saat ini sedang di tayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia adalah salah satu drama korea favorit saya. Sebuah drama yang mengisahkan perjalannan seseorang mengumpulkan air mata untuk mempertahankan hidupnya. Shin Ji Hyun, seorang gadis yang begitu bahagia karena akan segera melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pujaannya harus mengalami kecelakaan yang tidak ditakdirkan terjadi padanya. Karena malaikat maut tidak mempunyai perintah untuk mengambil nyawa gadis itu. Maka, dia akan mendapat penangguhan hidup sebagai roh selama 49 hari. Dia dapat hidup kembali jika dalam waktu 49 hari berhasil mengumpulkan 3 tetes air mata murni yang akan ditampung dalam liontingnya. Air mata yang keluar dari seseorang yang benar-benar memikirkannya. Dengan bangga Ji Hyun meyakinkan malaikat maut bahwa dia akan dapat mengumpulkan air mata lebih dari 3 tetes. Ayah, Ibu dan sahabat-sahabatnya akan memberinya air mata lebih dari cukup. Namun, langit tidak menghitung air mata yang mengalir dari keluarganya terutama ayah, ibu dan kakaknya. Dan kekecewaan Ji Hyun bertambah saat di lihatnya liontin air matanya tidak segera berisi walaupun banyak teman yang menangis mendengar berita kecelakannya. "Karena air mata mereka tidak seratus persen murni." Jawab malaikat maut menjatuhkan Ji hyun dari angan-angannya.
Mungkin kisah ini terasa sangat imajinatif dan impulsif. Sangat jauh bertentangan dengan keyakinan agama. Namun, ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil saat melihat kisah ini. 
Dalam perjalanan mencari air mata. Tokoh utama dalam kisah ini mengetahui banyak hal dan yang terutama mempelajari banyak hal. 
Dalam hidupnya Ji Hyun punya seorang teman yang sangat dekat dan bahkan telah dianggapnya saudara. Dia rela memberikan barang-barang berharganya untuk Shin In Jung. Namun, ternyata sahabatnya menilai kebaikan Ji Hyun hanya bentuk sebuah rasa kasihan. Dia tidak tulus hati menerima kebaikan hati Ji Hyun dan Ji Hyun dengan polosnya menganggap temannya akan lebih mencintainya karena telah dilengkapi segala keperluhannya. Disini terselib secuil kesombongan.
Inilah yang sering terjadi pada kita. Kadang kala dalam sebuah pertemanan terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Prasangka-prasangka yang buruk seharusnya tidak menghinggapi pikiran kita. Rasa Tulus kasih dari seorang teman tidak usah kita nilai dengan prasangka yang lain. Dan jika kita ditakdirkan untuk mempunyai hal lebih dari teman kita. Kita ditakdirkan untuk tangan di atas, jangan sampai ada kesombongan sedikitpun saat kita melakukannya. Karena sakit hati yang ditimbulkannya sangat besar. Kesombongan setitik itu merusak segala kebaikan atau hal-hal baik yang pernah kita lakukan.
Saat melihat perjuangan Ji Hyun mengumpulkan air mata murni. Timbul suatu pemikiran dalam pikiran saya. Adakah seseorang yang akan menangis dengan tulus mendengarkan berita duka tentang saya? Jika saya harus mengumpulkan 3 tetes air mata akankah saya menemukannya?
Maka, jawaban saya adalah saya tidak yakin. Namun, saya berharap akan ada lebih dari 3 tetes air mata yang dikeluarkan karena saya. Saya yakin harapan ini bukan hanya milik saya. Semua orang akan berharap bahwa dirinya bernilai lebih bagi orang lain.
Dan Bagaimana saya dapat mencapai tahapan itu?. Bermakna lebih bagi orang lain. Maka, jawabannya adalah dimulai saat ini juga. Kita bisa bermakna lebih bagi orang lain saat kita juga menjadikan orang lain bermakna lebih bagi diri kita. Jangan pernah memandang rendah orang lain. Dan jangan pernah menganggap diri kita lebih hebat dari orang lain.
Seorang ahli matematika yang sangat hebat belum tentu dia akan menang dengan pembuat tempe dalam perlombaan membuat tempe. Kantor yang megah akan terlihat kotor tanpa kehadiran petugas kebersihan. lingkungan elite pun akan tampak kumuh tanpa kehadiran pemulung yang siap menyortir berbagai sampah yang penduduk keluarkan.
Maka sahabat, sebelum semua ini berakhir mari kita buat diri kita bermakna bagi orang lain. Mulai menghargai orang lain. orang tua kita, saudara kita, teman-teman kita dan orang - orang di sekitar kita. Agar saat kita benar-benar pergi dari dunia ini akan ada banyak hati yang mengenang kita dalam sebuah keindahan.
Saat kita terlahir di dunia. Kita menagis dan orang-orang di sekitar kita tersenyum senang. Dan semoga saat kita meninggal di dunia kita tersenyum dan orang-orang mengisi kepergian kita.

Sabtu, 22 November 2014

Catatan Kecil: Bukan Daun Namun Biji

Kepada kawanku yang tergabung dalam Paguyupan Akhwat Sholicha UIN Malang

Kawan, Aku bukanlah daun yang gugur dari rantingnya. Aku adalah biji yang jatuh dari pohonnya. Hilang. Terkubur Kompos. Dan termakan oleh tanah. Saat semua orang mengira diriku telah hilang dari jalan pejuangan. Dengan sangat pelan aku bangkit berjuang. Dengan penuh tekad menjadi pohon yang hijau dan rindang.
Kawan, Aku masih tetap kawanmu. Walau jalan yang kita tempuh berbeda. Ideologi kita juga telah tak sama. Namun, yakinlah bahwa tauhid kita sama dan begitu juga dengan kedua syahadat kita.
Mungkin engkau kecewa dengan pilihan jalanku. Karena kita pernah merangkai mimpi indah yang sama bersama-sama. Tapi, bagiku sama sekali tidak ada penyesalan karena aku telah mengenalmu. Kau akan tetap menjadi kawan-kawan berhargaku. Didalam lubuk hatiku yang terdalama kau adalah kawan-kawanku yang memberiku banyak warna. Engkau adalah kompos-kompos kehidupanku. Mengenalmu dan berbagi mimpi denganmu adalah salah satu anugrah indah yang diberikanNya padaku.
Kawan, aku mencintai dan menyanyangimu sama seperti dulu. Tidak ada yang berbeda, Dan kuharap kaupun akan melakukan hal yang sama. Dalam mimpiku ada kamu sebagai saudaraku. Pengingat di saat aku terlupa. Memegang, menuntun dan meremas tanganku saat aku goyah.
Kawan. aku mencintaimu karena Allah. Dan ku harap kaupun merasakan yang sama untukku.
Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku. Dan yang akan kau berikan padaku.

Saudaramu: Nur Hameedah.

Rabu, 22 Oktober 2014

Pagi ini 22 Oktober

22 Oktober.
Salah satu hari istimewa bagi salah satu malaikat penjagaku.
Menjadi kebiasaaku saat pagi tanggal 22 Oktober, aku akan lari menemui beliau. Mencium kedua belah pipi beliau. Mengucapkan maaf karena telah banyak berbuat salah. Mengucapkan terimakasih atas segala dorongan yang beliau berikan. Dan mengungkapkan betapa aku sangat menyanyangi beliau.
Namun, Pagi ini sedikit berbeda saat kulihat sosok beliau tak ada lagi di tempat yang biasanya.
Pagi ini kusadari satu hal sahabat,
Jangan menunggu lama untuk mengungkapkan rasa cintamu pada orang tuamu. Jangan menunggu moment moment tertentu untuk mengungkapkan segala rasa sayang, terima kasih dan segalanya.
Sahabat, Sebelum mereka pergi dari dunia yang sama denganmu
Segera berlari, peluk mereka dan katakan betapa engkau begitu sayang dan berterima kasih kepada mereka.

Senin, 20 Oktober 2014

Filosofi Pohon Kurma

Pohon kurma adalah salah satu pohon yang ajaib. Kenapa kita bilang ajaib?? Karena pohon Kurma bisa bertahan tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah yang begitu lezat di tengah padang tandus dan gersang dataran Timur Tengah.
Sahabat Tahu bagaimana para petani pohon kurma menanam pohon kurma?
Para Petani menanam biji kurma di tengah tanah pasir dan menutup lumbang tersebut dengan batu. Batu tersebut akan membuat akar pohon kurma semakin kokoh masuk kedalam tanah. Sehingga pohon kurma tidak akan tumbang saat badai gurun terjadi. Dan lama Kelamaan tunas kurma akan muncul kepermukaan tanah dengan menggulingkan batu yang menutupinya.
Subhanallah.... 
Sahabat, Mampukah kami menjadi sebatang pohon kurma yang kokoh dan mengahasilkan sesuatu yang lezat di tengah padang gersang?
Mampukah kita tetap berdiri tegak walau badai ujian datang seperti halnya pohon kurma saat badai gurun datang?
Mampukah kita kita membuang segala halang rintangan yang menghalangi jalan kita dan  muncul sebagai penang seperti halnya pohon kurma yang mengalahkan batu dan tumbuh menjadi kuat?
Sahabat, Kadang kita perlu batu atau penghalang yang bisa menguji sejauh mana kita bisa bertahan. Sehebat mana kita akan berjuang dan sekuat apa kita akan tetap berdiri tegak.
Maka, jadilah seperti halnya pohon kurma.


Do'a Dalam Bentuk Yang Lain


Sahabat....
Sering kali meminta pada Allah kefahaman akan ilmu yang di ajarkan oleh guru kita di sekolah dan Allah memberi kita guru yang begitu disiplin akan tugas-tugas yang diberikan
Sering kali kita meminta Allah kekuatan dalam mencari ilmu dan Allah memberi kita tugas sekolah yang menumpuk-numpuk
Sering kali kita meminta pada Allah kesabaran dalam menuntut ilmu dan allah memberi kita materi yang sulit di pahami
Sering kali kita meminta pada Allah keteguhan dalam dalam jalan pencarian ilmu dan Allah menyediakan suatu ilmu yang sangat sulit masuk ke dalam pikiran kita
Sahabat...
Allah akan menempa kita menjadi sesuatu yang lebih berguna. Seperti halnya batang besi harus di tempa pada api yang panas di dipukul dengan palu untuk membuatnya memjadi pisau yang tajam.
Jangan sekalipun berpikir bahwa Allah tidak mengabulkan do'a kita karena sesungguhnya Allah sedang mengajadi kita untuk menjadi orang yang faham secara menyeluruh, orang yang kuat, sabar dan teguh dalam menuntut ilmu. 
Allah punya cara yang indah untuk menjadikan kita lebih bermakna.
Semoga kita tidak menyerah dalam menuntut ilmu dan ilmu yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat. Amin.

Rabu, 01 Oktober 2014

Hari-Hari Terakhir Bersama Ayah Part 3

Kamis, 29 Mei 2014
Ini adalah hari mimpi buruk itu datang. Kenapa aku selalu menyebut ini mimpi karena bagiku semua yang terjadi di tanggal 29 Mei sepertihalnya sebuah mimpi. Hari itu kesenangan dan kesedihan berganti dengan begitu cepat tanpa aku sadari perubahannya.
Pagi ini saya seharusnya mengikuti acara pelatihan membaca alQur'an di daerah Mojokerto. Hal yang sebenarnya sangat ingin saya ikuti. Namun, entah kenapa saya merasa begitu berat untuk keluar dari rumah. Saya lebih memilih membantu ayah dan ibu membersihkan rumah. Karena dua hari berturut-turut rumah kami tidak berpenghuni lengkap. Maka terjadi kekacauan di mana-mana. 
Kami bertiga membagi tugas dengan adil dalam kegiatan membersihkan rumah. Saya bagian dalam rumah sedangkan ayah dan ibu di kebun. Kami membersihkan rumah ditemani nasyid yang menghentak dari sound system. Sesekali ayah ikut bernyanyi padahal beliau sama sekali tidak handal dalam menyanyi. Banyak sekali lirik yang salah sehingga membuat kami semua tertawa. 
Setelah semua beres. Saya dan ibu memutuskan pergi ke pasar karena harus membelikan perlengkapan untuk ayah dan ibu yang esok di tanggal 30 Mei 2014 akan mengikuti acara rekreasi di koperasi guru Bangsal ke NTB. Sementara ayah masih asyik menanam pohon di kebun belakang. Ayah memang pak kebun terhebat yang pernah saya temui. Beliau sangat bertangan dingin dalam hal bertanam. Hanya saja beliau tidak berprofesi sebagai seorang petani.
Di pasar, saya dan ibu mencari kue kesukaan ayah. Kuenya warna hitam dan ditaburi parutan kelapa. Karena ayah tidak suka dan tidak boleh makan parutan kelapa, biasanya saya akan menggigiti parutan kelapa tersebut dan setelah bersih ayah akan memakannya. Kebanyakan orang yang melihat tingkah kami akan merasa aneh dan jijik. Dan mungkin menganggap saya kurang sopan karena memberi kue sisa saya pada ayah saya. Namun, ayah tidak pernah menganggap itu menjijikan. Ayah saya tidak pernah menganggap saya menjijikkan. ^_^
Saat sampai dirumah saya mendapai ayah tengah duduk di teras melihat hasil berkebunnya seharian ini. Kami segera menikmati kue hitam dan bakso bersama-sama, tidak ketinggalan sepupu saya Izzah, kakanya dan ibunya. Kami menikmati bakso bersama-sama dengan berbagai macam canda dan memesan berbagai oleh-oleh karena ayah dan ibu esok akan rekreasi. Di tengah acara canda kami ayah mencoba berbagai macam barang yang kami beli di pasar. Dan ternyata ada sepasang kaos kaki yang baru kami beli ternyata tidak cukup di kaki beliau.
"Ikiloh kekno bapakmu!. (Ini berikan bapakmu!)" Kata ayah menyerahkan kaos kaki tersebut pada Izzah
"Mosok bapak ngawe kaos kaki ambek cilak botho. (Bapak tidak pakai kaos kaki kalau buat bata merah)" Protes Izzah yang membuat kami semua tertawa
"Yo wes pean pek gawe pean nek gedhe (Ya sudah buat kamu kalau kamu sudah besar)" 
Setelah sholat dhuhur, Saya memutuskan beristirahat. Namun, ayah seolah tidak merasa capek beliau masih tampak bersemangat dengan kebunnya. Dan saya begitu terperangah saat mendapati beliau telah menanam puluhan pohon singkong mengelilingi empang belakang rumah. Kata ayah tidak lama lagi jika Allah menghendaki kami akan segera menanam singkong yang besar-besar. 
Saat itu ibu memutuskan untuk membuang dan membakar barang-barang yang tidak dipakai lagi. Kami membakar beberapa pasang sepatu dan tas yang sudah rusak. Di tengah acara bakar membakar, ayah memprotes karena saya membakar tas muktamar Muhammadiyah yang telah terlihat dekil. Ayah segera mengambil tas tersebut dan memcucinya meminta saya menyimpan tas itu dengan terlebih dahulu membetulkan resletingnya yang sedikit koyak ke tukang reparasi. Disitu saya tersenyum, menyadari betapa besar cinta ayah pada organisasi tempat beliau tumbuh dan berkembang. Ayah hanya tersenyum saat saya goda tentang rasa cintanya pada Muhammadiyah.
Setelah kami membersihkan kebun. Ibu menyiapkan kami makanan yang semuanya bersal dari kebun kami. Berbagai macam sayuran yang beliau petik. Kami menikmati dengan sangat lahap, terutama ayah. Setelah itu kami memberihkan diri dan melakukan sholat ashar berjama'ah. Saat membersihkan diri ayah sangat lama. Sekali lagi saya mengoda beliau karena lamanya di kamar mandi. Beliau bilang badannya kotor sehingga perlu sangat detail membersihkan badannya. Setelah ashar kami menonton televisi bersama. Mengomentari bursa calon presiden RI. 
Ayah meminta ibu pergi ke rumah saudara yang sedang mengadakan hajatan. Awalnya ibu menolak namun, ayah memaksa dengan berpesan bahwa ibu adalah saudaranya dan ibu harus berbuat baik dengan saudaranya.
Dan saat itulah mimpi buruk itu dimulai. Saat saya menyalakan laptop untuk mulai bekerja dan menyiapkan segala macam hal yang harus saya bawa ke Malang. Tiba-tiba saya mendengar benda keras jatuh. Saya memanggil-manggil ayah namun tidak ada sahutan. Saya segera mencari asal suara benturan tersebut dan sangat terkejut saat mendapati ayah terjatuh di dekat meja makan. Saya segera meletakkan kepala beliau di pangkuan saya dan menjerit minta tolong dan meneriakkan kalimat tauhid.
Samar saya lihat beliau hanya sekali menggagukkan kepala pada saya dan segalanya mulai berubah. Tak ada lagi tawa dari wajah beliau apalagi nasehat panjang. Beliau hanya tertidur di dalam pangkuan saya. Dalam sebuah tidur panjang yang tak berkesudahan. Beliau hanya tidur di tengah jeritan saya. Beliau hanya tidur di tengah isak tangis saya. Dan beliau hanya tetap tidur dalam pelukan kami.

Selasa, 23 September 2014

Hari-Hari Terakhir Bersama Ayah Tercinta Part 2

Rabu, 28 Mei 2014.
Kupicingkan mataku untuk melihat jam tanganku dikegelapan. Waktu subuh masih sekitar sejam lagi, tapi ayah dan ibu sudah terdengar bercakap-cakap di ruang tengah. Dengan alasan penat karena peristiwa kemarin kembali kutarik selimutku dan kupejamkan mataku. Sebanarnya ini alasan klise untuk menutupi kemalasanku. Karena aku tahu sendiri orang tuakupun baru tertidur setelah tengah malam.
Tilawah al-Qur'an dari menara masjid Baitur Rohman mengingatkanku untuk segera bagun dari tidur. Sebentar lagi adzan Subuh akan berkumandang. Betapa terkejutnya saat kulihat ibu telah menyiapkan berbagai macam menu di meja makan. Entah sejak kapan beliau terbangun pagi ini. Yang pasti ibuku memang ibu yang super.
Pagi ini giliran aku yang akan ditinggal sendirian di rumah. Ayah akan ke Wisata Bahari Lamongan dengan siswa SDN Peterongan dan ibu akan pergi ke Taman Safari dengan siswa SDN Karangdiyeng 2. Ibu baru menyiapkan perbekalannya setelah perbekalan ayah siap. Dan ayah berangkat terlebih dahulu karena tempat tujuannya lebih jauh. Ayah sama sekali tidak memprotes semua pantangan yang ibu berikan. Mulai dari makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan sampai cara menghabiskan tenaganya. Benar-benar istri yang superkan. Beliau selalu mendahulukan kepentingan anggota keluarga yang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri.
Setelah ayah dan ibu berangkat rumah terasa begitu sepi. Sangat tidak nyaman. Akhirnya aku menghabiskan hari itu di sekolahan dan dirumah teman sambil menyiapkan segala berkas yang harus ku bawa ke Malang hari Jum'at. Seharian itu entah kenapa aku sangat merindukan ayah dan ibu terutama ayahku. Terhitung sebanyak 4 kali aku melakukan panggilan pada masing-masing. Aku rasa ini karena trauma karena peristiwa rekreasiku kemarin siang.
Selepas Maghrib, ibu datang dengan berbagai macam oleh-oleh. Kami segera menghubungi ayah dan bertanya keberadaan beliau. Ternyata beliau telah sampai di desa sebelah kami dan tidak lamapun beliau datang. Beliau hanya membawa satu macam oleh-oleh. Otak-otak bandeng dengan berbagai macam rasa, lauk kesukaan ibu. Dengan pura-pura ngambek saya memprotes beliau yang tidak membelikan oleh-oleh untukku.
Malam itu, ayah dan ibu banyak bercerita pada sepupuku Izza tentang keindahan Wisata Bahari Lamongan dan Taman Safari. Dan ayah bahkan berniat mengajak kami ke Taman Safari suatu hari nanti. Malam itu Izzah begitu bahagia dengan rencana ayah. Dan mungkin dalam tidurnya dia akan bermimpi tentang keindahan Taman Safari.
Manusia memang boleh berencana namun Allahlah yang menentukan.

Selasa, 19 Agustus 2014

Hari-Hari Terakhir Bersama Ayah Tercinta Part 1

Tanggal 27 Mei 2014, dua puluh enam menit menjelang Rabu dini hari. Saya begitu bersyukur karena saya kembali menapakkan kaki di pertigaan Ngranggon. Beribu syukur saya ucapkan karena saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali bertemu keluarga saya tercinta,
Segala kericuhan yang terjadi seharian ini hilang saat saya melihat ayah tercita duduk diatas motornya dilengkapi dengan jas hujan untuk melindungi diri dari rintik hujan. Setelah berpamitan dengan teman-teman saya, saya segera menghambur kepada beliau yang masih tampak asyik menerangkan sesuatu pada dua orang pemuda.
"Sinten yah? Tanya saya saat dua orang pemuda tersebut berlalu.
"Wong kate nang Dawar. tak kongkon balik moleh ae." Jawab ayah.. "Wong Dawar iku adoh. alas pisan. Nek ilang tambah yok opo?" Lanjut beliau. "Sampean maeng yok opo?"
"Mangke mawon kulo ceritani." Kata saya semakin mengeratkan pegangan saya pada ayah karena kami akan melewati sebuah jalur yang menurut cerita yang berkembang sering terlihat kuntilanak saat dini hari. "Ayah. Kulo seng bonceng ae. Kulo wedhi ambek kuntilanak."
"Hus. Orang yang yakin sama Allah gak perlu takut hal-hal seperti itu. Wong sampean isok moco Bismillah ae loh." Jawab beliau mementahkan saya dan saya semakin merapat di dalam jas hujan beliau yang lebar sambil menyembunyikan wajah saya dipunggung beliau yang hangat."Sampean harus jadi orang yang berani, hebat, dan jujur."
Nasehat beliau membuat saya ingat segala macam kebohongan yang saya lakukan hari ini
Ayah. Kulo sampun sampai di Prigen. Tapi, mboten saget tumbas ikan pesanan ayah. mboten enten seng sadean.
Ayah. Bis kulo mogok dados e telat nyampek rumah
Ayah. Kulo tasek teng Tulung Agung dereng angsal angkutan umum.
Ayah. Kulo ketemu mbak Didi Malang. Sakniki  kulo teng griyane mbak Didi.
Ayah. Kulo masih lama. Bis umumnya lambat. Sampean sare mawon. 
Saya terdiam memikirkan segala macam kebohongan yang saya lakukan pada orang tua saya. Saya hanya butuh beberapa waktu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya dan meminta maaf.
"Dos pundi tamu dugi Arab wau yah?" Tanya saya memecah kesunyian malam. Saya ingat sore ini ayah harus bertemu tamu dari Arab Saudi yang memberi bantuan untuk masjid Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kutorejo.
"Aku gak ngerti omongane. Gawe bahasa arab tok. Paling pean tok seng mboten ngerti"
"Yo kabeh podo gak ngertine. Wong-wong PCM yo gak ono seng ngerti."
Saya tersenyum. Ini sifat khas beliau yang kata sebagian keluarga besar menurun pada saya. Sifat tidak mau mengalah atau mungkin lebih tepatnya sifat tidak mau terlihat kalah dari yang lain.
Dan segala macam pesan singkat yang mengandung kebohongan yang saya kirim sepanjang hari ini.
Sampai di rumah saat ayah mengunci gerbang. Saya segera memeluknya dan mengungkapkan kebahagian saya karena saya dapat kembali bertemu ayah dan ibu, saya dapat kembali pulang ke rumah. Ibu saya yang mendengar perkataan saya segera menghambur ke teras. Dan bertanya-tanya.
Sisa hari itu saya gunakan untuk bercerita sedetail-detailnya pada ayah dan ibu saya tentang kecelakaan yang saya dan rombongan SMP Muhammadiyah alami tadi siang. Tentang bagaimana perasaan saya merasakan detik-detik tergelincirnya bus yang saya tumpangi. Jeritan penumpang bus dan teriakannya. Air mata kami saat melihat gadis kecil yang meninggal dalam kerumunan kami. Rumah duka si gadis kecil dan teriakan si nenek saat menyambut kami di rumah duka.
Dan segala kebohongan yang saya ucapkan pada mereka dimaafkan karena kebohongan itu bertujuan membuat ayah dan ibu tenang di rumah. Saya yakin jika mereka tahu saya mengalami kecelakaan di sebuah tempat yang jauh dan tidak tergores seincipun mereka akan segera datang ketempat tersebut. Apapun cara akan mereka tempuh untuk berjumpa dengan saya segera.
"Makane nek golek bis itu seng mesisan apik."  Komentar ayah saya
"Kok isok gak gawe bis pariwisata itu lo." Tambah ibu saya
Ibu memeluk saya dalam dekapannya dan mengucapkan beribu syukur. Ayah segera menyuruh saya sholat dan melakukan syujud atas segala anugerah yang saya terima hari ini.
Dan tanggal 27 Mei 2014 saya menutup hari itu dengan kegembiraan dan kesyukuran. Karena Allah masih mengizinkan saya bersua dengan ayah dan ibu saya kembali. Karena Allah menyelamatkan saya dan rombongan dari kecelakaan tersebut. Dan berdo'a semoga gadis kecil itu diberi tempat yang indah di syurga Nya. Amin
Terima kasih Allah karena menyelamatkan aku dari kecelakaan itu dan membawaku kembali bertemu ayah dan ibu tercinta.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Catatan Kecil : Bulan Shock Teraphy

Awal Mei saya mendapatkan pesan singkat yang isinya salah satu ibu teman kerja saya di SMA Muhammadiyah meninggal dunia di usianya yang telah senja. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan pesan serupa, ayah mertua dari teman saya di SMA Muhammadiyah yang juga bibi saya meninggal dunia secara mendadak saat bersiap melaksanakan sholat tahajud.
Tanggal 27 Mei 2014, rombongan saya beserta siswa-siswi SMP Muhammadiyah gagal bertamsya dikarenakan bus yang kami tumpangi tidak kuat ditanjakan dan tergelincir. Allhamdullillah Allah SWT masih melindungi penumpang bus. Namun, tidak demikian dengan seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang sedang mengendarai motor dengan ibunya. Motor yang dikencarai ibunya menyenggol bagian samping bus kami yang tergelincir. Dan gadis kecil itu meninggal dalam dekapan salah satu teman saya dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Muhammadiyah Tulung Agung.
Tanggal, 29 Mei 2014. Saya kehilangan salah satu malaikat penjaga saya. Ayahanda Suyono secara tiba-tiba. Tanpa memberikan petunjuk apapun beliau tiba-tiba terjatuh di dekat meja makan. Padahal menit-menit sebelumnya beliau masih bernasehat pada saya dan menit selanjutnya secara mendadak beliau memejamkan matanya dalam pangkuan saya. Bahkan beliau tidak berpamitan pada saya beliau hanya mengingukuti satu kali kalimat tauhid yang saya teriakkan dan kemudian tidak menyahut lagi.
Dalam suasana duka yang masih menyelimuti saya. Tanggal 30 Mei 2014 tepat pukul 20.00 saya kembali mendapatkan berita duka. Rekan kerja saya di SMA Muhammadiyah yang baru menikah selama 5 hari meninggal dunia secara mendadak karena tersedak.
Dan tidak lama kemudian saya kembali mendapatkan pesan singkat bahwa pakde saya meninggal dunia secara mendadak sesaat setelah beliau mengerjakan sholat ashar. dan meninggal di atas tempat sholatnya.

Bulan Mei 2014 adalah bulan shock terapi bagi kejiwaan, dan keimanan saya. Inilah hakikat dari kematian sesungguhnya kita semua tidak akan tahu kapan kematian kita akan datang. Bagaimana akhir kehidupan kita haruslah kita pikirkan sejak kini???
Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik dalam perjalanan hidup kita dan memohon agar Allah memberi kita petunjuk dan memudahkan sakaratul maut kita.

Sabtu, 10 Mei 2014

Catatan Kecil: Geliat Kesyirikan "Makam Itu Palsu"

Jalan-jalan pagi adalah rutinitas yang kami lakukan setiap kali ada liburan tak terduga (bukan hari minggu). Seperti pagi itu (Jum'at 30 Januari 2014), setelah sholat subuh berjama'ah, menyiapkan air minum, dan mengikat tali sepatu dengan benar. Kami mulai petualangan kami pagi ini.

Kami memutuskan untuk mengambil jalur selatan, jalur yang belum pernah kami lalui sebelumnya. Karena kami berniat menjemput teman-teman kami yang rumahnya di selatan desa kami. Setelah berjalan sekitar satu kilo meter kami berhenti dilapangan dan menunggu teman-teman lain agar berkumpul semua.

Dan petualangan kami pun dimulai. Dengan berlari - lari kecil ke arah selatan. Di gang pertama desa Ngayung kami berbelok ke timur dan berjalan kurang lebuh 1,5 km kemudian membelok ke arah selatan. Beberapa diantara kami tidak pernah melalui jalan terjal ini. Saya waktu kecil sesekali lewat jalan ini. itupun tidak berjalan kaki namun, di bonceng oleh paman saya. Menurut saya jalan yang menghubungkan desa Ngarung dan Dusun Randegan ini tampak lebih terang dari pada zaman saya masih kecil. Namun, bagi beberapa anak oase club masih terlalu menakutkan. Apalagi pagi ini tampak cukup berkabut karena semalam hujan deras.

Sampai di tengah jalan, tiba-tiba salah seorang adik saya berteriak dan berlari membuat yang lainnya pontang-panting berlari. Setelah saya berhasil menenangkan mereka, akhirnya saya tahu apa yang membuat mereka lari. Tak jauh dari kami berada ada sebuah pohon beringin yang cukup besar. Pohon beringin ini telah ada bahkan saat saya masih kecil. Letaknya di tengah pematang sawah, jadi akan terlihat dari segala macam arah memandang. Di sebelah barat laut tampak pepohonan yang mengelilingi rumah saya karena rumah.

Dulu saat saya masih kecil, saya juga sering kali takut jika memandang pohon beringin dari belakang rumah. Namun, paman saya yang tahu akan ketakutan saya malah mengajak saya berlari menuju pohon tersebut beberapa kali. Dan membuat saya tidak takut lagi pada pohon tersebut karena selain pohonnya yang rindang tidak ada hal menakutkan dari pohon tersebut. Malah duduk dibawahnya sambil mengembala kambing terasa begitu segar.

Dan kini kenangan masa lalu saya tentang pohon itu sedikit berbeda. Ada sesuatu yang berbeda di bawah pohon tersebut tampak dua 4 buah nisan yang mengisyaratkan bahwa di bawah pohon tersebut ada 2 makam mungil entah makan siapa. Tanda tersebutlah yang membuat member Oase Club kalang kabut.

Saya masih memikirkan keberadaan nisan-nisan tersebut. Samapi dirumah saya mencoba bertanya pada ayah dan paman saya yang saya yakin lebih tahu tentang pohon tersebut. Mendengar cerita saya kedua lelaki tersebut terkejut dan menguatkan ingatan saya bahwa dulu dipohon beringin tersebut tidak ada makam satupun. Maka saya tuliskan disini untuk meyakinkan adik adik saya tersayang dan seluruh warga desa bahwa MAKAM POHON BERINGIN ITU PALSU.

Makam itu adalah palsu entah makam siapa. Entah seseorang yang hanya mencoba membuat punden atau orang yang berniat membuat acara kesyirikan di dusun kami. Nau'zubillahimin dzalik.

Sahabat,,,,, seseotrang yang berniat menanamkan kesyirikan akan berusaha dengan berbagai macam cara. Dan kesyirikan dapat terhembuskan ke dalam hati kita tanpa kita duga-duga. Maka, mari kita berdo'a bersama-sama agar kita dijauhkan dari kesyirikan tersebut. Dan saya katakan sekali lagi bahwa MAKAM TERSEBUT PALSU. Dan beritahukan yang lainnnya bahwa MAKAM TERSEBUT PALSU.

Jumat, 14 Maret 2014

Catatan Kecil: Merebut Kembali Hati Mereka

Hari jum'at kemarin saya membatalkan janji temu dengan adik-adik Oase Club dengan alasan membantu di acara pernikahan sepupu saya. Begitu juga di hari Sabtu, saya kembali membatalkan janji temu kami untuk berlatih kerajinan tangan. Hari Ahad saya tidak berkonsentrasi penuh menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka kerana pikiran saya sedang terbagi untuk memikirkan peresmian masjid Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kutorejo. Hari Senin, saya meninggalkan adik-adik Oase Club hampir selama 40 menit karena saya harus mencari barang-barang kebutuhan peresmina masjid dan tepat di hari Selasa saya secara sadis menuliskan pesan di papan tulis di depan rumah saya:
DIK....
MAAF MBAK ADA KEPENTINGAN DI MOJOKERTO. LIBUR DULU SEMENTARA SELAMA DUA HARI YA....
KITA KETEMU LAGI HARI KAMIS. LOVE YOU.. ^_^

Dan ternyata gambar smile yang saya bubuhkan di akhir pesan yang saya tuliskan tidak berhasil membuat senyum di wajah mereka. Saya tahu bahwa saya telah membuat mereka marah dan kecawa.

Kamis sore saya telah menyiapkan berbagai macam cara untuk merebut kembali hati mereka. Guyuran hujan sepanjang perjalanan saya dari mengajar di SMA tak begitu saya gubris. Yang ada dalam pikiran saya hanya cara-cara yang dapat saya lakukan untuk membuat mereka kembali tersenyum pada saya.

Namun, kini Allah membuat saya merasakan kekecewaan yang telah saya berikan pada adik-adik Oase Club. Hujan tidak turun deras, tapi satupun batang hidung mereka tidak nampak. Saya dengan santai menuggu kedatangan mereka dengan mengucapkan do'a-do'a agar mereka segera datang.

Dan do'a saya baru terkabul selepas sholat Maghrib. Adik-adik Oase Club datang berbondong-bondong dengan masih menyimpan amarah. Saya bisa merasakan dari teriakan-teriakan mereka pada saya yang tidak segera menjawab pertanyaannya. Saya benar-benar kewalahan di buatnya.
"Sabar dik. Coba sambil di cari dulu."
"Salahe wingi prei..."
"Iya kakean prei"
"Aku kemarin salah banyak ..."
"Aku gak bisa jawab...."
Keluh kesah ku di jawab dengan berbagai macam keluh kesah mereka. "Loh salah mengerjakan PR kok malah marah ke saya. Seharusnya kejadian ini bisa membuat mereka lebih bersyukur atas kehadiran saya Hehehe...." Batin saya

Tepat pukul 19.20 pekerjaan rumah masing-masing telah selesai. Dengan tulus sebelum menutup acara belajar bersama kami malam ini dengan do'a saya mengucapkan maaf yang setulus-tulusnya pada mereka. Setelah saya katakan pada mereka alasan-alasan saya karena beberapa hari lebih mementingkan organisasi maka mereka mengerti.

Kami berbicara dari hati kehati. Mencoba saling menghargai keberadaan masing-masing. Berjanji saya akan lebih mengerti mereka dan mereka akan lebih mengerti saya.

Ini adalah salah satu kejadian yang kembali mengingatkan saya bahwa kami telah saling terikat dan saling membutuhkan satu sama lain. Saya harap kebersamaan kami akan saling dapat menguatkan. selamanya. Amin