Perasaan nyaman
Terbalut pertemanan
Diselingi candaan
Menghadirkan senyuman
Dalam mimpi atau khayalan
Membawa tawa kebahagiaan
Kadang kala
Jantungku bergetar
Saat mata berbinar
Tak bisa terkendali
Mengenali langkah kaki
Sungguh gila
Perasaan apa ini??
# Ada virus merah jambu di OC
#Mencoba mengerti mereka
Cari Blog Ini
Blog ini di dedikasikan kepada tim pewaris negeri "OASE club" untuk mengasah bakat dan kreatifitas mereka.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Februari 2015
Rabu, 11 Desember 2013
Puisi "Gamang"
Aku mengemasi hatiku
Dari tempat-tempat yang pernah disinggahinya
Dari ceruk-ceruk yang pernah diisinya
Dari liku-liku yang pernah dilewatinya
Dengan air mata yang tersembunyi
Dengan berbagai alasan mencoba meneguhkan diri
Kini....
Saat aku merasa aku telah lari sangat jauh
Saat aku merasa aku telah aman
Sebuah suara memanggilku
Memintaku menoleh ke belakang
Ketempat dimana aku memulai perjalananku
Aku.......
Tidak hanya menoleh
Aku....
Mulai berjalan kebelakang
Aku....
Mulai mundur ke tempat awal
Aku benci
Dengan perasaan ini
Dengan keegoisanku
Dengan ketakutanmu
Dengan harapanku
Dengan keputus asaanmu
Jangan lanjutkan membuatku terikat
Bahkan tanpa tali
Jangan mencoba membuatku berharap
Jika engkau tak mampu memulai
Jika engkau tak punya keberanian pada masa depan
Gerimis, 111213
Dari tempat-tempat yang pernah disinggahinya
Dari ceruk-ceruk yang pernah diisinya
Dari liku-liku yang pernah dilewatinya
Dengan air mata yang tersembunyi
Dengan berbagai alasan mencoba meneguhkan diri
Kini....
Saat aku merasa aku telah lari sangat jauh
Saat aku merasa aku telah aman
Sebuah suara memanggilku
Memintaku menoleh ke belakang
Ketempat dimana aku memulai perjalananku
Aku.......
Tidak hanya menoleh
Aku....
Mulai berjalan kebelakang
Aku....
Mulai mundur ke tempat awal
Aku benci
Dengan perasaan ini
Dengan keegoisanku
Dengan ketakutanmu
Dengan harapanku
Dengan keputus asaanmu
Jangan lanjutkan membuatku terikat
Bahkan tanpa tali
Jangan mencoba membuatku berharap
Jika engkau tak mampu memulai
Jika engkau tak punya keberanian pada masa depan
Gerimis, 111213
Selasa, 10 September 2013
Puisi: Apakah
Apakah aku menyesal....
Kenapa melihatmu di upacara bendera
Kenapa aku mencari dirimu di setiap sudut
Kenapa aku mendengarkan nasehat-nasehatmu
Kenapa aku mengikuti iramamu
Kenapa aku mempercayai khayalanku
Kenapa aku mengikutimu
Apakah aku menyesal???
Tapi, mungkin aku akan lebih menyesal
jika tak kurasakan semua itu
Kenapa melihatmu di upacara bendera
Kenapa aku mencari dirimu di setiap sudut
Kenapa aku mendengarkan nasehat-nasehatmu
Kenapa aku mengikuti iramamu
Kenapa aku mempercayai khayalanku
Kenapa aku mengikutimu
Apakah aku menyesal???
Tapi, mungkin aku akan lebih menyesal
jika tak kurasakan semua itu
Minggu, 28 Juli 2013
Puisi: Tak Berjudul
Semburat jingga
Gemericik air
Keheningan
Pemikiran
Nafas berat
Mengikis derita batin
Mengusir resah
Mencari pegangan
Namun semakin nyata
Galau jiwa
Resah pikiran
Guratan derita batin
Detik-detik semakin nyata
Tersentak
Berlari berlari mencari cahaya
Kegelapan yang datang
Sunyi dan Pekat
Tak kuhiraukan
Siulan merdu
Panggilan sayang
Yang kubutuhkan
Raungan
Bualan-bualan
Agar tak lagi terasa
Resah jiwa
Jerit tangis
Rintihan batin
Derai air mata
Semakin jauh
Semakin terasa pedih
Semakin ku tutup telinga
Semakin jelas gejolak nurani
Lelah.....
Tak kuasa......
Gontai......
Jatuh......
Terduduk hanya mampu berbisik
"Rabb dekaplah aku
Dekap erat diriku
Biarkan aku dalam dekapanMU ya Rabb"
Gemericik air
Keheningan
Pemikiran
Nafas berat
Mengikis derita batin
Mengusir resah
Mencari pegangan
Namun semakin nyata
Galau jiwa
Resah pikiran
Guratan derita batin
Detik-detik semakin nyata
Tersentak
Berlari berlari mencari cahaya
Kegelapan yang datang
Sunyi dan Pekat
Tak kuhiraukan
Siulan merdu
Panggilan sayang
Yang kubutuhkan
Raungan
Bualan-bualan
Agar tak lagi terasa
Resah jiwa
Jerit tangis
Rintihan batin
Derai air mata
Semakin jauh
Semakin terasa pedih
Semakin ku tutup telinga
Semakin jelas gejolak nurani
Lelah.....
Tak kuasa......
Gontai......
Jatuh......
Terduduk hanya mampu berbisik
"Rabb dekaplah aku
Dekap erat diriku
Biarkan aku dalam dekapanMU ya Rabb"
Minggu, 23 Juni 2013
Puisi: Cinta Sederhana
AKU INGIN
Karya: Supardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat disampaikan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sederhana, indah dan romantis
Saya pertama kali membaca puisi ini di perpustakaan MAN Mojosari,. Sekali baca saya langsung ingat bunyi bait-baitnya, selain puisinya sangat singkat tapi mudah merasuk disanubari, tidak berlebih jika saya katakan saya jatuh cinta pada puisi ini. Setelah membacanya saya semakin menyukai membaca puisi. Kalau membuat, tunggu dulu. Saya bukanlah seorang pujangga yang dapat membuat puisi indah walaupun dipaksakan karena memang belum menemukan bakat dalam membuatnya. :)
Saya juga menyempatkan membaca puisi-puisi bapak Supardi Djoko Damono seperti; Hatiku Selembar Daun, Hujan Bulan Juni, Sajak Kecil Tentang Cinta, Ketika Kau Tiada dll. Namun, menurut saya Aku Ingin-lah yangpaling indah.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Sangat jarang orang yang dapat melakukannya. Cinta sering kali terasa rumit. Disatu sudut ada kebahagiaan dan tawa yang disebabkan cinta dan disudut yang lain ada tragedi yang juga dikarenakan cinta. Tapi, sejatinya cinta itu amat sederhana.
Cinta sederhana didalamnya ada ketulusan dan kesempurnaan, menjadi idaman setiap orang.
Dengan kata yang tak sempat disampaikan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Kayu sejatinya mencintai api maka dia membiarkan dirinya terbakar habis tanpa berkata-kata. Ada juga ungkapan lilin yang rela membakar dirinya. Tapi, menurut saya lebih dalam makna kayu menjadi abu. Karena jika lilin maka dia akan mempunyai kesempatan untuk membeku kembali. Namun, tidak halnya dengan kayu saat dia telah menjadi abu maka akan hilang tanpa meninggalkan bekas saat angin tertiup.
Sederhana, indah, romantis dan ambigu itulah yang dapat saya tangkap saat saya membaca lebih dalam.
Puisi itu dapat diartikan sebagai puisi yang romantis dan indah, sebuah cinta yang tulus tanpa pamrih. Rela memberikan apapun untuk orang yang dicitainya. Kayu tetap mencintai api walaupun api membakar kayu sampai habis menjadi abu. Kayu tetap dapat memaafkan api dan mencintainya walaupun merasakan rasa sakit. Cinta sederhana yang dimiliki kayu pada api. Tak perlu banyak kata hanya perlu dibuktikan.
Namun, Puisi inipun dapat diartikan sebagai ungkapan cinta sederhana yang hanya ada dalam hati yang teramat dalam. Kayu menjadi abu tak sempat berkata-kata, sama seperti nasi telah menjadi bubur maka semuanya telah terlambat. Namun, itu semua dilakukan karena kayu mencintai api. Walaupun kayu tidak sempat mengatakan apa-apa saat api membakarnya.
Sama seperti bait terakhir
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Saat hujan datang maka awanpun menghilang tanpa isyarat apapunMungkin dapat diartikan kayu dan awan rela terlupakan demi kebahagiaan api dan hujan yang dicintainya.
Dan saya lebih setuju mengartikannya demikian
Cinta yang dirasakan kayu dan awan sederhana namun penuh makna. Sebuah kesempurnaan dalam kesederhanaan. Semakin lama semakin indah bukan kepedihan walaupun belum sempat mengatakannya dan belum sempat memberikan isyarat apapun. Cinta itu datang secara sederhana maka tidak perlu menggebu untuk mengatakan dan mengisyaratkannya. Cinta yang menggebu dan menderu seperti ombak dilaut akan menghempaskan apaun diatasnya. Sejatinya cinta itu sangat sederhana bersumber dari yang maha memiliki cinta. DIA.
Maka akupun ingin berbagi sebuah cinta yang sederhana. ^_^
semilir bambu, 23 Juni 2013
Sabtu, 18 Mei 2013
Puisi: Kembali Datang
Bintangku datang diwaktu tak terduga
Bersama terik disertai semilir
Telinga mata
meredang dan bulu meregang
Dadaku
memainkan irama tak beraturan
Dia datang
tiba-tiba
Dengan
senyum merekah bunga
Dengan wajah
semakin dewasa
Dengan
pemikiran yang berubah
Serasa belasan musin tak bersua
Banyak kata
terkumpul jadi buku
Tapi tak
satupun jadi bait
Saat kulihat
lagi dia
Rabb kenapa
masih ada
Tersembunyi sangat dalam
Kukira dia telah hilang
Terbawa angin kehidupan
Hujan
memenuhi hatiku
Seonggok
daging tersembunyi
Kembali subur menguarkan asa
Tapi pucuk
yang kucup bertanya
Mungkinkah???
Aku tak tahu
pasti tapi yang jelas
Sejak kau
datang bersama terik dan pulang tanpa senja
Hatiku
kembali mengukir harmoni itu...